Nenek, Cucunya dan Ironi Perempuan TKW Indonesia

•November 22, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Nenek, Cucunya dan Ironi Perempuan TKW Indonesia 

Calon TKI TKW Indonesia
Calon TKI TKW Indonesia

What has happened
to the pupils
of my eyes, Picasso?
Why do I deserve
such deformity?
poem partialy taken from Weeping Woman
poem of  Grace Nichols inspired by Dora Mar by P.Picasso

Sore selesai shalat magrib nenek sedang menyeruput kopi di ruang tamu bersama Agi. Tiba-tiba Agi melihat ke televisi dimana sekilas wajah seorang wanita tampil di televisi. Wajah yang tampil dalam televisi itu bukanlah wajah-wajah manis wanita pembawa acara ataupun pembaca berita. Sekilas wajah wanita itu seperti mumi fir’aun yang kurus kering kerontang dengan luka-luka disekitar wajahnya. Agi langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangan sambil masih mengintip dari buku-buku jarinya. Nenekpun menghela nafas terhenyak melihat wanita itu. Nenek sudah tua renta tentu saja tidak tahan melihat pemandangan yang tampak di depan mereka.Ya, wajah itu wajah Sumiati. Kata pembawa acara tersebut ia merupakan TKW korban penyiksaan majikan di luarnegri.

“Nek, bagaimana mungkin wajah perempuan itu menjadi seseram itu. Penyiksaan seperti apa yang dia alami?” Tanya Agi kepada nenek. Nenek hanya menghela nafas melihat kondisi mulut perempuan tadi yang terobek serta tubuhnya yang kurus bagaikan tinggal kulit pembalut tulang.

“Nenek tidak tahu Gi, yang nenek pikirkan kesalahan apa yang dilakukan perempuan itu sehingga mengalami penyiksaan yang begitu hebatnya. Apakah memang kesalahannya sedemikian hebatnya atau memang majikannya mengalami masalah psikologis,” nenek menjawab sambil matanya berkaca-kaca.

Selintas nenek terbayang betapa jauhnya harapan Kartini tentang emansipasi wanita, dari bagaimana membentuk Karakter Wanita Indonesia hingga kemudian terevolusi menjadi wanita-wanita yang harus meninggalkan sanak familly dan keluarganya hanya karena keterpaksaan dan tuntutan kondisi untuk mencapai kehidupan keluarganya yang lebih baik. Perempuan-perempuan ini yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan harus keluar dan terkucil dari sanak familly bahkan jauh dari suami dan anak-anak, dengan harapan dapat mencapai nasib yang lebih baik dan kemajuan ekonomi bagi keluarganya.

Satu kata, keterpaksaan… dengan mimpi-mimpi meraih tingkat dan status ekonomi yang lebih baik, pengorbanan pun dari awal dilakukan mereka. Betapa sakitnya Ibu Kartini apabila melihat wajah perempuan tersebut apalagi bila beliau tahu harapan dan cita-cita perempuan tersebut mengadu nasib diluar, mensupport tanggung jawab suami dalam menafkahi keluarganya dan meningkatkan taraf hidup mereka. Hal ini sangat ironi dengan hasil yang didapatkan oleh perempuan tersebut apalagi pengorbanan mereka teramat besar.

“Agi tidak tahu apa-apa nek, tapi yang jelas ada yang salah ya nek?” Agi kembali bertanya kepada neneknya,”kalau satu dua kasus mungkin kekhilafan namun kalau berulang-ulang dengan banyak kasus yang terjadi mungkin ada sesuatu yang memang salah,” Agi menatap neneknya yang tua renta.

Sesaat televisi menayangkan pendapat seorang pembicara yang menyatakan perlunya data dan tes psikologis bagi calon majikan yang membutuhkan Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia sebagai pembantu rumah tangga. Pembicara lain juga menambahkan tentang perlunya para TKW dikenalkan terlebih dahulu dengan KBRI tempat mereka bekerja, pejabat-pejabatnya dan alamat yang mudah dihubungi sebelum mereka mulai bekerja. Termasuk bila perlu penandatanganan kontrak kerja di KBRI.

Solusi-solusi mungkin saja bergulir. Nenek menggelengkan kepala, betapa perih dan pahitnya apa yang dialami oleh perempuan Indonesia. Nenek memang tidak dapat seperti Agi yang masih memikirkan masa depan dan masalah-masalah birokrasi. Tetapi apapun itu apa yang di alami Sumiati dan korban-korban yang lain merupakan kepahitan yang dalam dan sangat kontradiksi bagi cita-cita dan kemajuan perempuan Indonesia. Lebih pahit lagi diawali dengan keinginan cita untuk berbahagia dan sejahtera, ini sangat perih dan Ironi.

Ketakutan akan selalu membayangi nenek bagaimana bila cucunya yang mengalami hal itu. Masih ribuan nenek-nenek lainnya yang tidak ingin cucunya hancur seperti Sumiati dan masih ribuan Sumiati-Sumiati lain yang butuh perlindungan dan menjerit menghindari kehancuran. Walaupun banyak pula mereka yang berhasil mencapai kemajuan ekonomi keluarganya, tetap sistem perlindungan bagi keselamatan kerja mereka yang tepat sangat mereka butuhkan.

Nenek menetes air matanya menatap Agi dan berdoa semoga cucunya sebagai perempuan Indonesia tidak mengalami kepahitan seperti itu. Kesunyian memenuhi sesaat sebelum Adzan Isya terdengar.

Iklan

A Hight Price Phenomenon (Wasior, Merapi and Mentawai Indonesia Dissaster October 2010)

•Oktober 30, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

A Hight Price Phenomenon

(Wasior, Merapi and Mentawai Indonesia Dissaster October 2010)

We wake to begin
our life is a struggle
sometimes happy, sometimes sad
make friends along the way
hope to see them everyday
only the strong survives
turbulant times ahead
some heroes are now dead.

(token from end of time By Elle Hemmings (UK), Title by Ibrahim Dabo) 

Before October Indonesia seam peacefully place after the Islamic Ceremonial Idul Fitri. But in October suddenly people shock with three natural disaster spread across this country from east to west. Suddenly it came and many people lost or die.

The question from across nation which still shocked is Why? Why it happen again and again, and why on South Mentawai Island which is always warned by small earthquake still can not resist the tsunami that is caused by a large earthquake from sea. Why the city of Wasior must receive wave flood, or why still large victim from Merapi Eruption. The question maybe has an answer but it is important to see the cases one by one.

The Indonesia has a National Mitigation Instititute. Of course they are has alot of credit to save people, minimizing victim, and help and support the saviour. In the three cases they work good and Intens because involved many social group and foundation and science.

First on Merapi Victims there are some traditional people which didn’t have same view with the National Vulkanologi and Natural Disaster Institute (NVNDI) warned. This traditional people believed when their trusted men haven’t yet come down they’re still hanging event thought the NVNDI told them to move to safety place.

In Mentawai 300 people died and reach 400 people has being lost. They swapt away by a giant wave called tsunami. Probably the detector of eartquake and the mitigation of dissaster for tsunami warn is not capable spread fast news because it’s not enought modern facility for the people which lived there and speacially comunication technology to warn people after the Earthquake before the tsunami came.

The Wasior wave flood  from heavy rain is a different disaster. The extrem condtion in Oktober in Indonesia made a heavy rain in Wasior. But with a good city planning about cannal and soil with the natural plan live above it of course the condition of wave flood can be minimized. Step by step with this good city planning the condition wouldn’t never happen and never reach that bad situation again.

Last but not least why in Indonesia alot of Natural dissaster? Indonesia is very organic land which is possible for plan grow heavily. The organic soil came from the Vulcanic process and ofcourse it involved vulcanic Mountain. The Vulcanic Mountain laid there because Indonesia rounded by Subduction plate tectonic zone. Vulcanic Mountain and The Slide of The Zone causing Earthquake. Indonesia has alot heavy rain because It is laid in Tropical Climate Zone. With this climate, heavy rain will come across, so water canaling system and city plan about water movement underground, needed for Indonesian village and city planning. Finally God knows of all the reason.

Source :

Arif Wibowo, Sebelum Merapi Meletus, Mbah Maridjan Diam saat Sosialisasi, Tempo 10 30 2010.

Metrotvnews.com, Mentawai Kembali Diguncang Gempa, 10 30 2010.

Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Laporan Erupsi G. Merapi 10 26 2010

Bramantyo,Trijaya,crl, Pemerintah Siapkan Barak Untuk Pengungsi Wasior, news.okezone.com 10 16 2010

Wuryanti Puspitasari, KumandangkanAzan Sebelum Ditelan Banjir Wasior, http://www.antaranews.com,  10 17  2010

Bahaya Kegelapan dalam Narkoba

•September 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bahaya Kegelapan dalam Narkoba

ditulis oleh : Arivia Noviana Amanda (Via)

Night
A Poetry from  James Thomson

He Cried Out throught the night
Where is The Light?
Shall nevermore
Open Heaven’s door?
Oh, Iam left
Lonely, bereft!”

He Cried Out throught the night
His voice in its might
Rang forth and far
And then like a star
Dwindled from sense
In the immense

He Cried Out throught the night
No answering light
No syllabel sound
Beneath and around
A long shuddering thrill
Then all again still

 

 

 

Detik demi detik bergulir, dilorong becek dan lembab. Walaupun tampaknya masih pukul 8 malam tetapi di lorong ini terasa pukul dua belas malam. Hal ini karena sedikit sekali orang yang melalui lorong ini. Tidak seperti malam takbiran kemarin dimana orang berduyun-duyun melalui lorong ini untuk menemui sanak familynya yang kebetulan tinggal melalui daerah Cisitu. Seharusnya tidak ada rasa kekhawatiran di dalam diri, karena tahun-tahun sebelumnya lorong ini biasa dilewati.

 

Sekejap Via teringat akan kawan sepermainan sewaktu kecil. Ya, puluhan tahun yang lalu dia mati karena Overdosis, begitu menurut penyelidikan polisi. Via sendiri sangat anti terhadap narkoba, tetapi begitulah masa peralihan, ada yang melewati dengan berhasil dan nyaman namun ada yang melewatinya dengan penuh gejolak dan mengalami kegagalan sehingga harus berakhir tragis.

Pendidikan sedari dini akan bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang memang sering dikumandangkan namun tetap saja remaja kita ada yang memakainya. Mereka ada yang beralasan untuk pergaulan, untuk penampilan bahkan ada yang memakainya untuk menguruskan badan. Padahal bahaya dan effek mematikannya tidak sepadan dengan alasan memakainya.

Tentu saja udara dilorong ini makin dingin karena hujan baru saja reda beberapa saat yang lalu. Via pun teringat akan suami Via (Harlin Pasili Ansori) terbiasa melewati lorong ini puluhan tahun yang lalu dengan ciri khas kakinya yang sedikit membentuk huruf O, berjingkat-jingkat menghindari becek di lorong sambil menanyakan tentang teman Via yang meninggal akibat Narkoba. Telapak tangannya yang bergaris tangan membentuk huruf M di kanan dan dikiri biasanya ikut meraba mencari jalan apabila sinar bulan tidak cukup terang untuk melewati jalan ini sambil menggandeng lengan Via. Waktu itu berita tentang adanya korban Narkoba menjadi perbincangan kami sepanjang lorong ini.

Sepintas bayangan wajah teman masa kecil Via muncul dipelupuk yang membuat bulu kuduk ini merinding. Namun hal tersebut tidak seberapa dari pada effek Narkotika dan obat-obatan terlarang bagi pemakainya. Effeknya jauh membuat bulu kuduk Via merinding. Wanita Dewasa juga harus menyadari akan bahaya Narkoba, sehingga dia dapat menjadi contoh bagi adik, generasi muda maupun anak-anaknya. Dan tentunya semenjak dini dapat memberi peringatan kepada anak-anaknya mengenai bahaya latennya. Bukan cuma menguras kantong dan uang, namun juga menghancurkan kesehatan, masa depan dan membahayakan jiwa pemakainya.

Rasanya keaktifan perempuan dalam memerangi Narkoba bukan hanya dari sisi keluarga saja, namun dapat melalui pendidikan agama, serta pendidikan pengeluaran dan pemasukan. Seseorang yang menimbang pengeluaran dan pemasukannya tentu lebih sulit tertarik rayuan narkoba ketimbang orang yang ceroboh dalam pemakaian keuangannya. Tentunya ketelitian perempuan dalam mengawasi perubahan pola dan tingkah laku anaknya ataupun anak didiknya lebih cermat ketimbang pria. Karena wanita lebih memakai perasaan dan hal ini dapat mendeteksi secara dini apakah seorang anak mengalami perubahan akibat narkotika dan obat-obatan terlarang atau karena masalah lain.

Hal yang wajar apabila hal-hal semacam itu sebagai masalah yang harus ditanggapi bersama-sama dan bukan masalah ringan. Adanya Granat dan badan-badan anti narkoba lainnya dapat menjadi alternatif untuk menghindari kejadian-kejadian naas akibat narkoba. Orang tua, kawan, sang anak mereka harus saling terbuka dan melaporkan apabila ada penyimpangan-penyimpangan yang dikaitkan dengan Narkoba.

Ujung lorong tampak mulai terlihat cahaya. Mungkin saja sinar tersebut berasal dari salah satu warung yang masih buka, ataupun dari pemukiman. Secepatnya saja langkah ini diayunkan, agar terhindar dari kegelapan.

Arivia Noviana Amanda
Sepupu Susan Amalia dan Seorang Perempuan Putri dari Ririe Lies Yunia.

Daftar Pustaka

-Yayasan Spritia, NARKOBA, Yayasan Spritia, Jakarta, 2010.

-Subroto, JANGAN PERNAH COBA NARKOBA, Republika.

-Harjono, H. Joko Wibowo, TERAPI DAN REHABILITASI NARAPIDANA NARKOTIKA MELALUI METODE CRIMINON DAN KESENIAN, Lapas Narkotika , Jakarta 2008.

Selamat Hari Raya Idul Fitri dan Mohon Maaf  Lahir Batin

Moslem Women in Ramadhan Month

•Agustus 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Moslem Women in Ramadhan Month

Bismillah
Ramadan is here, Here is Ramadan.
Ramadan is coming, The time that is blessed.
Ramadan is coming, The time we love best.
The month in which the Qur'an was sent;
A time of great blessing in which to repent.
Fasting for Allah is a great Muslim deed;
Controlling desires and Suppressing greed.

token from Children poem of Ramadhan by NN

Ramadhan Month (in Arabian year) come in this August  2010. Ofcourse alot of moslem woman more busy than other month. They must get up more early to make a menu for “sahur” (dinner before fasting). Sometimes several lady must add their budgeting in their menu for breaking fasting menu.

It’s a different point of view of fasting. Fasting is some training for us to cutting budgeting for food or just eat twice a day. With fasting people can save their food and water in daily so they can saving food longer then without fasting. Ofcourse the Arabian people knows that, so they can easyly spread to many different area and city with their body trained with less food and water. Most of Indonesia people probably has been forgoten this fasting function.

For a woman offcourse it’s harder work in Ramadhan month than in other month, but many of them happily wake up early than subuh praying time and in islamic word it’s called ibadah to God. It’s kind a duty with pleasure to serve dinner for their familly event it’s hard for them. Alot of Arabian Woman add their spirit to work for their familly than work outside home.

Via realize how beatifull Ramadhan it is. When Magrib time all familly together in the dinner table and grouping to Masjid on Magrib time, and it’s different than any other day. It is woman as a wife and as a mother work and serve more hard and it’s for Allah.

Probably some woman does not realize they work triple because they always doing that same thing on Ramadhan. But The Familly realize the woman become their hero when breaking fasting times come in the afternoon and the children very proud to their mom. The Amazing Ramadhan Month has been showing us, how important woman in Islamic life.

The Beautifull Ramadhan made people happy, and it comes one month in every one year. Hopefully, Via can see other Ramadhan Month next year. Happy Fasting day and Welcome Ramadhan Month to all Moslem in the world.

refrence:

AL-Qur'an nul Karim
Douglass, Susan. Muslim Holidays, 2nd Edition 2004 Council of Islamic Education.
Islamic Knowledge team. How to Make the most of Ramadhan, 2010.

The Dangerous Deseases is Dangerous Schene for Woman

•Juli 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

The Dangerous Deseases is Dangerous Schene for Woman

written by arivia noviana amanda

WHAT DO YOU FEEL?

from Sara Berger
12 years old

If you shiver, you
are shuddering. If
you shudder, you are
shivering. But if you listen, you are
understanding.

There are alot of Diseases which is endangerous woman. But the most discussion is about the disease which came from genital sex contact. Many woman everyday haunted about this deseases.What is the dangerous woman deseases is. There 3 Fatal deseases like gohornea, herpes, HIV (AIDS) and many woman in the world has died just because this last word deseases. The Bad Foreign  habit like Free Sex out of Marriage, or injection drug addict has made many woman in the world suffer hiv or aids. It’s not just suffering the woman but it’s also suffering the baby inside her if the woman pregnant. Why it’s happen around us if we know the danger of the infection? Many Doctor believe every deseases has the cure, but right now one of uncure deseases is AIDS. And the medicine for this Deseases very expensive and it’s not curing the deseases.

So Indonesian woman must realize, she and her husband must remembered moral and education as Indonesian woman and man. The Foreign habit like Free Sex and Drug injection addict must stay away from Woman, Man or event the children. To Avoid many risk we must know the standart healt procedure and do not intent to make A Foreign habit come and atacking us, atack our familly, husband, or event the kid in the house.

Religion is one the most effective filter to stand the Indonesian Woman Morality, and it’snot only my word, it’s still many people believe it. One is The Best according me is Islam. This Religion guids to avoid and stay away from free sex with other man or woman, and Forbide any food or drug which are endangerous the consument. The discipline about time prayer and about the rule in sex relation it’s very clear and it’s easy to practice it event we aren’t in the Fasting Month “Ramadhan”.

The Ramadhan Month which is coming soon just a few next day, is agood train for husband and wife to control their Pasion. In this Month it’s not just unmarried relationcouple wich are forbiden to make sex contact, The legaly husband and wife are forbiden too, to having sex in the day light when fasting time. Permition for Husband and Wife to having sex only in The Night when Fasting over.

So It’s important to us as parent or woman to study and practice our religion and for me is Islam. The Dangerous Schene for Woman such AIDS can be avoided by stay still in dinnul Islam (Way of Islam). Woman as one of economic motoral in moslem country and specially in the War time, it’s very important to stay away from the Foreign Bad Habit such Free Sex and Dangerous Drugs. This Two point is actually the Spears or Weapon of Enemy to crushing our faith, make instability in woman personal, economic, and it’s very dangerous for nation, faith and morality of the nation. It’s dangering young people and the baby too.

Now in the globalization, woman of Indonesia must believe one of the most healtier way of life is the Islamic life and habit. As Moslem woman must still living in the Way of Islam (Dinnul Islam) event it in modern situational and global era. It’s healtier than dangering life which many bad habit and action. It’s healtier for us, husband, familly and the kids. Living in Islam which loves clean atmosfer and life is make us far away too from TORCH virus from animal which can make imfertil situation. Many moslem women in other country still believe it, many women in Indonesia still believe it. Avoid the dangerous of the deseases with our good and religious habbit. May Allah Protect The Faithfull Moslem Women from the dangerous deseases.

Arivia Noviana Amanda

Library Sources :

samsul maarif, Bahaya Seks Bebas dan Akibatnya 2010
smart team, torch-waspadai-bahaya-dan-infeksinya. Informasitips.com 2010

Ujian Bagi Derajat Kaum Perempuan Indonesia

•Juni 30, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ujian Bagi Derajat Kaum Perempuan Indonesia

oleh
Arivia Noviana Amanda

So when you’re with trouble beset,
And your spirits are soaking wet,
When all the sky with clouds is black,
Don’t lie down upon your back
And look at _them_. Just do the thing;
Though you are choked, still try to sing.
If times are dark, believe them fair,
And you will cross the Delaware!
(taken from “A Lesson from History” by Joseph Morris)


Udara dingin bulan Juni berhembus bersama angin di Kota Bandung. Memang Via selama bulan Juni ini menghabiskan waktu di dua kota : Bandung dan Bandar Lampung. Hanya sesekali ke Jakarta. Saat ini Bandung masih dilimpahi curah hujan yang cukup besar. Dari televisi di Apotik tampak berita-berita menghebohkan seputar tokoh-tokoh yang tervideokan secara “polos” dan beraktivitas “menyimpang” dari kehidupan norma, sebagaimana kasus-kasus sebelumnya. Via berpikir sebagai seorang istri dan seorang perempuan di Indonesia, banyak-banyak bermohon sekali kepada Allah agar terhindar dari kekhilafan fatal sedemikian, dan terus dapat menunjukan loyalitas kepada suami, bangsa, Negara dan terutama Tuhan. Walaupun untuk mengarah kepada idealistas sangat sulit setidaknya mempertahankan apa yang dicapai dan meraih kemajuan lebih dihari depan, baik keharmonisan rumah tangga maupun kelancaran dalam menjalani kehidupan. Mudahan-mudahan Allah memakbulkan do’a Via untuk dilindunginya dari kekhilafan dan alfa yang fatal dalam keseharian Via.

Via berpikir masalah-masalah privasial yang terkuak di masyarakat tersebut, pemecahan dan solusi individual adalah kepada individual tersebut terhadap agama dan Tuhan, dan tentunya lebih berkaitan kepada sanksi-sanksi individual/privasial. Namun akibat perkembangan media yang pesat sangat mempengaruhi opini masyarakat, penilaian dunia luar terhadap perempuan Indonesia dan menyibukan para perempuan dewasa yang mempunyai anak untuk mulai tersadar agar menerapkan proteksi kepada anak-anaknya dengan lebih sedikit ketat daripada sebelum masa teknologi modern zaman ini.

Dari pandangan Via, fakta yang terjadi adalah ujian bagi kaum perempuan. Terutama dengan serbuan kepercayaan asing yang berusah menyerang secara frontal kepada anak-anak dan remaja Indonesia. Selain itu derajat wanita Indonesia yang “ngampung” dan pemalu, mulai perlahan-lahan digusur oleh serangan-serangan material luar yang langsung menyerang tokoh-tokoh masyarakat negeri ini.

Petugas apotik tiba-tiba memperbesar suara televisi. Tokoh-tokoh pada layar kaca tersebut bukanlah sosok yang Via tidak kenal, melainkan tokoh-tokoh yang bahkan satu pengunjung apotik dapat mengenalinya. Sejenak Via teringat sewaktu masa kecil, sewaktu Via belajar mengaji di Ranca Ekek. Oleh guru ngaji Via diajarkan tentang tradisi dan loyalitas perempuan Arab terhadap orangtua, suami dan Tuhan yang terkenal di mata dunia International. Walaupun penerapan berlebihan dapat mengungkung dan membebani serta dapat dimanfaatkan oleh lawan politik, namun apabila tidak dengan cara kungkungan namun bersifat keterbukaan (dua arah) dan solusi Islam dikehidupan modern, maka tradisi-tradisi wanita arab yang berasal dari ajaran Islam ini dapat membudaya dan popular kembali di kehidupan perempuan dan bangsa Indonesia. Via juga diceritakan bagaimana istri-istri pejuang Islam dan perempuan-perempuan Arab begitu setianya dalam menantikan suami yang bertahun-tahun berjuang jihad di jalan Allah, dan mengurus rumah tangga dengan kemandirian mereka dengan penanggungan nafkah dari Bazis Dana Muslimin karena suami mereka sedang di medan perang. Ketangguhan ini menurut guru ngaji Via dapat disetarakan dengan perjuangan suaminya di medan laga. Apalagi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dalam mengurus anak, mendidik anak dan memproteksi anak-anak mereka dari anasir-anasir jahat kaum musyrikin. Loyalitas dan keluguan wanita Arab ini terbukti telah mengharumkan nama perempuan-perempuan muslim Arab yang namanya cukup banyak dan sering didengar di pengajian-pengajian ibu-ibu muslimin. Dan fakta ini bukanlah “bullshit” atau omong kosong, tetapi yang masih terus berlangsung hingga era modern.

Gerakan-gerakan modernisasi wanita Arab yang dibentrokan dengan tradisi orthodoks, tentunya tidak perlu dibentrokan dengan ajaran Islam, karena apabila dibentrokan maka jelas hal-hal tersebut merupakan strategi serangan bagi sebuah keyakinan/agama. Tentunya serangan-serangan asing secara infiltran terhadap wanita muslim Arab menurut pandangan Via jangan sampai berbaur dengan gerakan modernisasi kemajuan wanita Arab, yang pada faktanya penerapan Islam merupakan suatu terobosan besar bagi kemajuan pendidikan dan pengetahuan wanita pada masa penyebaran Islam di Makah dan Madinah. Pada masa itu wanita-wanita muslim memberontak terhadap tradisi Quraysyn yang menekan dan mengucilkan wanita, pemerkosaan, pembunuhan anak wanita, dan membutahurufkan wanita dari pengetahuan. Pemberontakan tersebut membuka jalur pendidikan, penyampaian ilmu, pendidikan dan agama oleh kaum wanita dan situasi ini berbeda dengan sebelum masa penyebaran Islam pada kaum Quraisyn. Masa sebelum itu wanita-wanita tersebut hanya menjadi perhiasan/pemanis dalam pelaku perdagangan (kaum Quraisyn berbudaya tinggi dalam perdagangan), perhiasan dalam pesta-pesta dansa khamr, menjadi objek seksualitas dan bukan subjek dalam prikehidupan, menjadi alat tukar dalam melancarkan bisnis pada zaman jahil itu. Ketokohan wanita setelah melewati masa jahil dan masuk dunia Islam terasa kuat, baik dalam penyampaian ajaran Islam dan ilmu, prikehidupan, dan menjadi sentral ekonomi bagi kota/Negara ketika para suami berjuang dimedan laga.

Mengapa Wanita Arab yang terlintas dibenak Via? Jawabannya sederhana, selain ingatan Via melayang kepada masa Ranca Ekek, tentunya nama Via sendiri yang berasal dari kata Arivia yang berarti Arabia tidak dapat lepas begitu saja dari Via. Dan keluguan wanita Jawa amat bersesuaian dengan keluguan dan kecerdasan serta kemandirian wanita-wanita Arab yang bukan Cuma teori tetapi telah terbukti dan terpraktikan selama berabad-abad. Bangsa Arab dapat bertahan berabad-abad bukan hanya karena ketangguhan para lelaki pejuangnya, namun kemandirian dan ketangguhan para wanita sehingga mampu memutar roda perekonomian baik di masa perang maupun di masa damai. Hal-hal yang telah terbukti, tentunya dapat diterapkan oleh wanita-wanita Indonesia dengan penerapan-penerapan yang sesuai dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan local dan situasional. Baik dalam melindungi, mendidik anak dan kemandirian dalam penyiapan generasi penerus sebagaimana perempuan-perempuan muslimin di masa perang dan damai. Via hanya menggumam terheran-heran dengan fakta ini, fakta-fakta tersebut adalah fakta-fakta yang bertentangan dengan cerita yang digembar-gemborkan kaum Liberalis Ekstrem yang justru sedang menyerang dan mendera bangsa kita saat ini.

Sejenak akibat tontonan berita di televisi apotik, Via teringat suami Via (Harlin Pasili Ansori) dan adik sepupu Via yaitu Ary, bagaimana reaksi mereka ketika melihat pemberitaan pada layar kaca. Apakah mereka kecewa, terpukul atau tersenyum, atau banyak-banyak mengucap Audzubillah. Atau malah mereka berduyun-duyun bersama-sama menyerbu ke Warnet karena penasaran akibat gencarnya pemberitaan yang membabi buta. Atau bahkan apakah mereka bereaksi “gibah” berlebihan sebagaimana reaksi sebagian pengunjung disini. Namun faktanya hal-hal tersebut mudah-mudahan tidak mempengaruhi kepada prilaku kehidupan mereka sehari-hari.

Perempuan penjaga apotik menyerahkan bon obat penurun panas yang dibeli Via akibat cuaca di Bulan Juni ini. Matanya tidak berkedip menatap wajah-wajah pada pemberitaan dan sesekali terheran-heran. Dia berkata itu adalah musibah, namun rautnya mengarahkan hal ini musibah bagi masyarakat. Via memandang lain, itu adalah ujian, ujian bagi derajat kaum perempuan Indonesia, baik dalam pendidikan dan proteksi anak maupun intropeksi ke dalam diri sehingga Kaum Perempuan Indonesia dapat bangkit kembali di esok hari. Mudah-mudahan kebangkitan Perempuan Indonesia setelah ujian ini bukan kahyalan tetapi kebangkitan yang dapat Via turut serta memajukannya dan bukan lantas menjadi ekspetasi yang berlebihan dari ambigu seorang wanita bernama Arivia.

Arivia Noviana Amanda (Via)

refrensi:

  1. televisi apotik
  2. http://www.themuslimwoman.org
  3. muslim-women-and-westren-liberal-feminisme by Arivia Noviana Amanda
  4. Progress of Arab Women: One Paradigm, Four Arenas, and More than 140 Million Women, United Nations, U.N. Development Fund for Women (UNIFEM),  2004.
  5. Wanita dalam Kehidupan Sosial Islam, LC, 2005. 
  6. Progress of Arab Women, UNIFEM, 2009.

A Simply Education

•Mei 26, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

A Simply Education

written by: Arivia Noviana Amanda (Via)

*

Memayu Hayuning Saliro
Memayu Hayuning Bongso
(Build Character Together-Build Nation Character)
words From Ki Hadjar Dewantoro
*

It’s become a habit when time come across May, all the streets full of demonstration.

Of course, in May there are many reasons why people come across street to become a demonstrant. Some of them came because to remember the May 1998 tragedy, the other

To celebrate of The Labor Day and fight about Labor Right. Of course the teachers come out to in May and following this activity because it’s connecting with education day in May.

When Via with Cousin “Suzan Amelia”, crossed the street in front of house of representative, suddenly appeared in Via imagination how the face of this country changed so much. It’s different view that Via saw in a few years ago. People of Indonesia now become more educated and they have more courage to show and publish what’s on their mine. Of course there were negative effects of this, because not all positive thinking to help and develop this country, there were some of them destructible or just only “a request from outer side”.

Education has grow for woman with speed enough fast. But the negative life style for Indonesian woman came follows and make double speed to capture and destructing of the woman morality and humanity religion. They doubling the speed quantity than the woman education in Indonesia, and Via think “do we realize it?”

In the very few ppast year, woman of Indonesia become a strength pillar for education. Many of Indonesian Woman became teachers event it in far away village. The program was clearly to develop Indonesian human completely which have Religion/Faith, Morality, High Intelligent, and High Education in Society Culture of Indonesia. A lot of this woman suddenly became “A hero without Medal,” to upgrade the speed of Indonesian Education.

In fact right now, the new life style for woman which forgoting this “Hero without Medal,” came. This culture trow out a new vision that different than woman in a few years ago. The Kartini figure has transform to many “house of beauty,” which is not came from the backyard greenhouse, but they changed the tradition, money for life style, and made a beauty positive view at front face but blurring darkness view behind.

In the past time it was a “simply education”, build by Nyi Hadjar Dewantoro to support her husband at their backyard home in the past. Maybe the program for “Indies people” at the time was not the best. Some of them still used a knocking ruler to hit student, and some stuff like running under the hot sun. Of course sometime they’d used the outbound of Bodden Powel method to build their student character and mixed with east religion and Javanese old tradition words. Some of their sacrifice result become the legendary “Prof. Dr. Sumitro Joyoadikusumo,” and some of them became martyrs of Indonesian economic guardian. They mixed the Indies east and west culture, and still the habit of Javanese woman at home was taught for Indies girls for adding ability to support their husband someday. Loyalty for their husband when supported the development of this country was taught too, since they were children.

Now the vision of new life style came, but many of religion school of Islam came too followed the time flow. They bring many different visions from “fanatic Muslimah,” “Liberal Moderate”, until “Extremely Liberative Vision.” The last vision was not to develop Indonesian Muslim woman but more their act as the hands of western liberal school economic and political will.

“Ibu yang mirip Karina Suwandi itu ajakin juga mbak ikut demo dari pada bengong/(Mrs./Miss Please ask the Madam which look like Karina suwandi to join us too to follow this demo),” Suddenly a demonstrant girl came to Suzan my cousin asked us to joint. Probably “Madam with Karina Suwandi Face means me, Via”. Via saw Suzan throw small laught to the demonstrant which asked us to joint. But she refused because we did not followed from beginning, did not understand the target (it was dangerous if we follow a demo without understand plan, situation and target), with under the hot sunshine  , beside that there are our planning to go to family gathering. Soon we left the demo area.

Still in May 2010, From past to modern, the simply education of Nyi Hadjar Dewantoro probably still shadowing every Javanese Educational Woman. As a muslim woman (a muslimah) and a wife, Via realize, Indonesian muslim woman in muslim character must speeding faster and strengthening their muslim character, than a new destructible woman life style because The Destructible came suddenly and fast had been eroting and eating our nation character in this globalization era untill now.

Arivia Noviana Amanda

Refrence:

  1. KGPAA Sri Paku Alam IX, KI HADJAR DEWANTARA: MENEROBOS DISTORSI DAN MENYAMBUNG BENANG MERAH PERADABAN Yogyakarta 2008
  2. Saiful Mujani Muslim demokrat: Islam, budaya demokrasi, dan partisipasi politik di Indonesia Pasca Orde Baru
  3. Syaikh A.G. Hasan, Wanita Dalam Islam, Maktabah Raudah Al-Muhibin, 2009.
  4. J.B.Suharjo B.Cahyono Gaya Hidup & Penyakit Modern Yogyakarta 2008.